Stres Hadapi Iran - Korut, Pentagon “Mengais” Tanah

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Pesawat siluman Northtrop Grumman Corp B-2 yang nantinya dipercaya menyebarkan bom BLU-109 utnuk menghancurkan tanah.(SuaraMedia News)

Pesawat siluman Northtrop Grumman Corp B-2 yang nantinya dipercaya menyebarkan bom BLU-109 utnuk menghancurkan tanah.(SuaraMedia News)

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Pentagon kini tengah berupaya untuk mempercepat perkembangan proses pembuatan bom penembus bunker (tempat perlindungan bawah tanah) dalam skala besar. Bom tersebut sedianya dipasang pada pesawat pengebom AS yang tercanggih.

Rencana tersebut sedianya dipersiapkan untuk bulan Juli 2010, demikian kata pihak angkatan udara AS pada hari Minggu (3/8) lalu. Rencana tersebut masih ada kaitannya dengan kekhawatiran AS mengenai ancaman nuklir dari Korea Utara dan Iran.

Bom non-nuklir penembus bunker seberat 30.000 pound (13.600 kilogram) yang diberi nama Massive Ordnance Penetrator (MOP) tersebut masih memasuki tahapan uji coba. Bom tersebut dirancang untuk dapat menghancurkan bunker yang terkubur di dalam tanah, daya hancurnya melebihi bahan peledak yang ada saat ini.

Jika Kongres AS menyetujui untuk mengalirkan cukup dana untuk membiayai program tersebut, pesawat pengebom siluman Northtrop Grumman Corp B-2 diperkirakan sudah mampu mengangkut bom tersebut pada bulan Juli 2010,” kata Andy Bournland, seorang juru bicara angkatan udara.

“Angkatan udara bersama dengan departemen pertahanan AS tengah mencari cara untuk mempercepat penyelesaian program tersebut,” katanya. “Kami telah berdiskusi dengan empat orang anggota komite kongres dengan kemungkinan tanggung jawab atas kekeliruan. Namun masih belum diambil keputusan final.”

Senjata dengan akurasi tinggi tersebut dirancang oleh Boeing Co. Senjata tersebut berpotensi menjadi bom konvensional terbesar yang pernah dipergunakan AS.

Dengan membawa bahan peledak lebih dari 5.300 pound (2.404 kilogram), bom tersebut dapat memberikan daya hancur 10 kali lipat dari pendahulunya, bom BLU-109 dengan berat 2.000 pound (907 kilogram), demikian menurut unit penanggulangan ancaman pertahanan Pentagon, yang mendanai dan mengelola program tersebut.

Perusahaan Boeing yang berbasis di Chicago, pemasok nomor 2 Pentagon, dapat langsung disodori kontrak pembuatan MOP pertama dalam waktu 72 jam jika Kongres menyetujuinya, kata Bourland.

Unit penanggulangan ancaman Pentagon bekerjasama dengan angkatan udara AS untuk mengubah arah program tersebut, dari sekedar demonstrasi menjadi akuisisi, kata Betsy Freeman, seorang juru bicara unit tersebut.

Komando Pasifik AS – yang memimpin perencanaan militer AS untuk menanggulangi masalah Korea Utara – dan Komando pusat – yang mempersiapkan kemungkinan terburuk melawan Iran, tampaknya mendukung penuh adanya permintaan percepatan program tersebut, kata Kenneth Katzman, seorang pakar masalah Iran di dinas penelitian Kongres, badan peneliti dari Kongres AS.

“Sangat mungkin bahwa Pentagon ingin mengirimkan sinyal kepada banyak negara, khususnya Iran dan Korea Utara, bahwa AS tengah mengembangkan sebuah senjata militer baru untuk menghadapi program nuklir mereka.” Kata Katzman.

Namun dia memperingatkan bahwa saat ini masih ada misi khusus yang harus dipikirkan. Bobot MOP diperkirakan mencapai sepertiga dari bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb yang beratnya mencapai 21.000 pound (9.500 kilogram) yang dijuluki sebagai “biangnya segala jenis bom” dan pernah dua kali dijatuhkan dalam uji coba pada tahun 2003.

Bom MOP sepanjang 20 kaki (6meter) tersebut memang sengaja dibuat untuk dibawa dan dijatuhkan oleh pesawat pengebom B-52 atau pesawat siluman B-2. Bom tersebut dirancang untuk dapat menembus kedalaman 200 kaki (61 meter) dibawah tanah sebelum akhirnya meledak, demikian menurut angkatan udara AS.

AS menduga kuat bahwa fasilitas nuklir Iran dan Korea Utara dikuburkan di bawah tanah untuk menghindari deteksi dan memperbesar peluang penyelamatan senjata nuklir dari serangan.

Dalam sebuah kunjungan ke Yerusalem minggu lalu, menteri pertahanan AS, Robert Gates mencoba meyakinkan Israel bahwa upaya dari presiden Barack Obama untuk berdialog dengan Iran bukanlah sebuah pembicaraan yang “tanpa batas”.

Iran mengatakan bahwa program pengayaan uraniumnya, sebuah proses yang mengandung potensi pengembangan bom, murni dipergunakan untuk menghasilkan energi dan Iran menampik keinginan AS untuk membatalkan program tersebut.

Sementara Korea Utara menanggapi sanksi baru PBB, yang dijatuhkan setelah Korea Utara meledakkan nuklir untuk kedua kalinya, dengan cara menjanjikan untuk membeberkan produksi nuklirnya pada bulan Juni. (dn/rtr) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini