Jadi Ladang Kriminal, Facebook Segera Ditutup Militer AS!

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Seorang tentara AS tengah mengakses situs jejaring sosial. Tidak lama lagi, anggota militer hanya bisa gigit jari karena adanya wacana pelarangan situs jejaring sosial seperti Facebook. (SuaraMedia News)

Seorang tentara AS tengah mengakses situs jejaring sosial. Tidak lama lagi, anggota militer hanya bisa gigit jari karena adanya wacana pelarangan situs jejaring sosial seperti Facebook. (SuaraMedia News)

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Militer AS tengah mempertimbangkan untuk menutup akses ke sejumlah situs jejaring sosial macam Facebook, Twitter dan seluruh situs jejaring sosial lainnya, alasan yang dikemukakan berkaitan dengan masalah privasi dan keamanan, demikian dilaporkan oleh Military Times.

“Terkadang karena asyik dengan situs-situs semacam itu, orang-orang menjadi terhanyut dan tidak terlalu menyadari apa saja yang mereka tuliskan di sana,” demikian kata seorang pejabat Pentagon. Pentagon mempersiapkan segala hal, mulai dari menutup akses terhadap komputer pemerintah untuk menciptakan jaringan internet “pribadi”.

Pihak militer beralasan bahwa Facebook dapat membuat para peretas komputer memperoleh akses mudah menuju jaringan internet militer AS. Minggu lalu, komando strategi AS memberikan peringatan terhadap seluruh anggota militer.

“Mekanisme dari situs jejaring sosial tidak pernah dirancang untuk keamanan dan penyaringan. Keberadaan dari situs jejaring sosial membuat orang-orang yang memiliki niatan jahat dapat dengan mudah mengelabui para pengguna yang tidak menyadari apa yang terjadi, itu adalah kenyataannya,” kata seorang sumber dari Stratcom, lembaga yang bertanggungjawab untuk mengamankan saluran informasi militer AS.

Misalnya saja, bulan lalu akun Twutter milik pengusaha Guy Kawasaki dibajak dan dipergunakan untuk menyebarkan video porno kepada 139.000 orang kawannya. Orang-orang yang menerima link diminta untuk menginstall piranti lunak terbaru. Padahal aplikasi yang diunduh tersebut adalah sebuah Trojan yang memungkinkan para hacker untuk mengambil alih komputer pengguna.

Sebuah varian dari virus Koobface – anagram dari Facebook – mampu “menggeledah” komputer pengguna dan mencari cookie dari akun Facebook. Virus tersebut kemudian mempergunakan data yang diperoleh untuk mengakses akun pengguna Facebook. Saat hal tersebut terjadi, virus Koobface menyebarkan pesan kepada kawan-kawan pengguna yang sedang online, lalu menganjurkan mereka untuk mengunduh virus dan Trojan.

“Orang-orang cenderung lebih mudah percaya terhadap pesan yang datangnya dari kawan atau kolega mereka di internet dibandingkan dengan sebuah pesan e-mail, karena memang sudah jamak ditemui pesan e-mail yang ditunggangi virus,” kata Graham Cluley, seorang konsultan senior yang berkerja untuk perusahaan keamanan inernet, Sophos.

“Ironisnya, situs jejaring sosial memang tidak dilengkapi perlindungan untuk menghentikan hal-hal semacam ini. Di Gmail, Hotmail atau akun e-mail militer, pesan yang masuk dipindai terlebih dahulu untuk menyaring program span dan virus. Situs jejaring sosial tidak melakukan hal tersebut. Tidak ada yang memeriksa jika sebuah link yang dipajang di wall adalah sebuah link berbahaya atau mengandung spam. Situs jejaring sosial membiarkan hal tersebut begitu saja. Hal tersebut membuat situs jejaring sosial menjadi ladang bagi para kriminal.”

Secara resmi, konsep untuk memperkenankan akses menuju situs jejaring sosial di jaringan .mil milik departemen pertahanan AS tengah menjalani peninjauan pada saat ini,” kata seorang juru bicara Stratcom. “Masih terlalu dini untuk mengomentari hasil akhir dari tinjauan ulang tersebut.

Namun, secara tidak resmi, pelarangan tersebut adalah sebuah hal yang pasti, kata para pejabat militer dan pegawai sipil. Sudah barang tentu ada banyak anggota militer yang kesal karena hal tersebut, karena setelah bertahun-tahun situs jejaring sosial ada dalam genggaman, hal tersebut dirampas oleh departemen pertahanan.

Pasukan militer AS baru-baru ini memerintahkan seluruh pangkalan militer AS untuk menyediakan akses kepada Facebook. Kepala staf gabungan militer AS memiliki 4.000 orang pengikut di Twitter. Departemen pertahanan AS juga bersiap untuk membuka sebuah situs internet baru.

“Kami sudah berjuang keras untuk hal ini,” kata seorang sumber militer. “Ini adalah sebuah langkah mundur.”

Dibawah rencana dari Stratcom, unit militer yang harus sering berhubungan dengan masyarakat sipil, seperti misalnya untuk urusan media dan perekrutan anggota, akan diberikan “komputer kotor” – komputer yang hanya terhubung pada jaringan internet umum, dan tidak terhubung pada jaringan internet militer. Sementara seluruh anggota departemen pertahanan lainnya akan sama sekali terputus dari situs jejaring sosial. Langkah tersebut diambil meski ada banyak protes dari kalangan internal Pentagon.

“Orang-orang mulai mempergunakan situs jejaring sosial sebelum kami mampu menangani cara untuk mempergunakannya dalam konteks departemen pertahanan,” demikian kata seorang sumber dari Stratcom. “Sekarang, situs jejaring sosial hanya membuat pusing.”

Isu tersebut masih tergolong rapuh karena para anggota saling berkomunikasi lewat sebuah jaringan yang juga dipergunakan untuk operasi militer. Fokus pasukan militer AS saat ini adalah masalah keamanan. Pada tahun 2007, Pentagon sempat memblokir situs jejaring sosial MySpace dan situs video sharing YouTube dengan alasan kurangnya bandwith. (dn/nwr/wd) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar