Google Ajak Manusia Jalan-Jalan Ke Bulan

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Google Earth kini menghadirkan penjelajahan virtual ke Bulan. (SuaraMedia News)

Google Earth kini menghadirkan penjelajahan virtual ke Bulan. (SuaraMedia News)

SAN FRANCISCO (SuaraMedia News) - Memperingati perayaan 40 tahun pendaratan manusia ke Bulan, Google menambahkan fitur baru pada layanan Google Earth. Adapun fitur yang ditambahkan adalah layanan pencitraan dan eksplorasi virtual perjalanan menuju Bulan.

Google rupanya sangat antusias ingin turut merayakan pendaratan misi Apollo 11 di Bulan pada 20 Juli 1969 silam. Fitur baru ini disebut Google sebagai petunjuk wisata ke Bulan yang mengasyikkan.

"Empat puluh tahun lalu, dua orang astronot melakukan pendaratan di Bulan," kata Product Manager Google Earth, Michael Weiss-Malik, seperti dikutip dari AFP, Selasa (21/7/2009).

"Dengan layanan ini, setiap orang bisa ikut dalam petualangan penjelajahan ke Bulan. Kami menghadirkan presentasi perjalanan misi Apollo interaktif dalam bentuk tiga dimensi," tambahnya.

Ada pula peranti lunak gratis yang menawarkan foto panorama yang diambil oleh para awak misi Apollo saat itu. Google juga menyediakan video rekaman pendaratan di Bulan yang telah direvisi dan fitur-fitur lainnya. Fitur baru ini bisa dinikmati dengan mengunduh Google Earth 5.0.

Beberapa gambar diantaranya sudah tersedia dan dapat diakses melalui layanan peta online Google yang beralamat di http://moon.google.com.

Sementara itu, Jutaan orang di Asia pekan ini akan menyaksikan gerhana matahari total terlama pada abad ini. Fenomena alam itu akan jelas terlihat di India dan China.

Bahkan, kota Shanghai dan sejumlah pulau di selatan Jepang bakal mengalami gelap di siang hari pada hari Rabu, 22 Juli 2009, waktu setempat. Kegelapan di wilayah-wilayah itu akan berlangsung selama sekitar lima menit.

Tak heran bila para fotografer, pengamat amatir, dan tim ilmuwan berbondong bondong ke China dan India untuk menyaksikan pemandangan yang mungkin hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Para astronom berharap gerhana itu akan mengungkap sejumlah petunjuk mengenai matahari.

Gerhana pertama kali akan muncul pada Rabu dini hari di Teluk Khambhat, India, yang terletak di sebelah utara kota metropolis Mumbai. Pemandangan itu selanjutnya akan tampak bagian timur India, lalu di Nepal, Myanmar, Banglades, Bhutan, dan China sebelum akhirnya muncul di Pasifik.

Terhalangnya pandangan ke matahari oleh bulan dari permukaan bumi itu terakhir akan tampak di Pulau Nikumaroro, Kiribati, yang terletak di Pasifik Selatan. Namun penduduk negara-negara lain di Asia juga bisa melihat gerhana matahari, walau tidak akan total.

Bagi para astronom, gerhana itu akan menjadi peluang untuk memandangi langsung, dalam waktu relatif lama, korona matahari. Benda itu menyerupai cincin putih berjarak 1 juta kilometer dari permukaan matahari.

"Korona itu memiliki suhu 2 juta derajat, namun kami tidak tahu mengapa begitu panas," kata Lucie Green, astronom dari University College, London. "Apa yang ingin kami saksikan adalah gelombang dalam korona. Gelombang-gelombang itu mungkin memproduksi energi pemanas. Itu berarti kami tengah menyelidiki satu elemen dari ilmu matahari," lanjut Green.

Tim ilmuwan juga berharap bahwa gerhana nanti akan memberi petunju atas nyala solar dan struktur-struktur lain dari matahari dan mengapa bisa meletus, kata Alphonse Sterling, ilmuwan dari NASA.

Gerhana total terakhir - yaitu pada Agustus 2008 - berlangsung selama 2 menit 27 detik. Namun gerhana kali ini akan berlangsung lebih lama dan mungkin terlama dalam satu abad terakhir, yaitu 6 menit dan 39 detik.(okz/vvn) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini