Duo AS-Inggris “Benarkan” Perang Afghanistan

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Menteri luar negeri AS Hillary Clinton ketika bertemu dengan menteri luar negeri Inggris David Miliband, dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai masalah Afghanistan. (SuaraMedia News)

Menteri luar negeri AS Hillary Clinton ketika bertemu dengan menteri luar negeri Inggris David Miliband, dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai masalah Afghanistan. (SuaraMedia News)

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Inggris dan AS pada hari Rabu sepakat untuk memperpanjang misi di Afghanistan, meskipun skeptisime publik atas perang itu kian meningkat setelah tentara mereka mengalami bulan yang paling mematikan sejak tahun 2001.

Menteri luar negeri David Miliband berada di Washington untuk membicarakan masalah Afghanistan. Ia mengatakan bahwa ini adalah saat yang berat bagi tentara dari semua negara yang ada di Afganistan namun ia percaya rakyat Inggris mendukung misi ini.

“Saya rasa rakyat Inggris akan tetap mendukung misi ini karena ada strategi dan tekad yang jelas dari AS dan anggota koalisi lainnya untuk menyelesaikannya,” ujar Miliband dalam sebuah konferensi pers bersama menteri luar negeri Hillary Clinton.

Tentara Inggris baru saja mengakhiri operasi penyerangan “Cakar Panther” yang berlangsung selama lima minggu untuk coba menyerang dan mengusir pejuang Taliban dari wilayah selatan Afghanistan.

Miliband mengatakan Afghanistan merupakan inkubator untuk serangan-serangan seperti serangan 11 September 2001 di AS dan rakyat Inggris memahami hal ini.

Clinton juga mengatakan apa yang ia sebut sebagai komitmen kuat kedua negara di Afghanistan. “Kami akan terus berjuang bersama,” ujarnya.

Jumlah tentara Inggris yang tewas di Afghanistan telah melebihi mereka yang terbunuh dalam perang Irak, sebuah angka yang semakin mengurangi dukungan publik akan upaya di Afghanistan.

Bulan ini saja, ketika tentara AS dan Inggris melancarkan serangan besar, 22 tentara Inggris tewas, menambah jumlah mereka yang tewas sejak perang dimulai menjadi 191 personel. Sejauh ini, 39 tentara AS tewas di sana bulan ini.

Sebuah jajak pendapat yang digelar koran Independen minggu ini menemukan bahwa 52% masyarakat berpikir tentara Inggris harus segera ditarik pulang secepatnya. Sedangkan jajak pendapat di AS menunjukkan sekitar separuh rakyat Amerika masih mendukung perang di Afghanistan.

“Ini merupakan periode yang paling menantang bagi pasukan AS dan Inggris, juga bagi rakyat kedua negara yang berdiri di belakang mereka,” ujar Clinton.

Namun, ia mengatakan bahwa misi di Afghanistan dan Pakistan merupakan kepentingan utama kedua negara.

Clinton mengatakan laporan dari para komandan menunjukkan adanya hasil yang signifikan dari operasi militer di wilayah selatan namun masih banyak yang harus dilakukan untuk mengalahkan Al-Qaeda dan sekutunya di Afghanistan maupun Pakistan.

“Kita tahu ini adalah tantangan yang tidak akan mudah untuk diselesaikan dalam waktu singkat,” ujarnya.

Mililband sendiri mengulangi pentingnya pemerintah Afghanistan untuk memegang tanggung jawab keamanan di negaranya.

“Penambahan terbesar jumlah pasukan dalam beberapa tahun mendatang tidak akan berasal dari Inggris atau AS tapi rakyat Afghan sendiri. Dan inti dari strategi kita sekarang adalah membangun kekuatan keamanan Afghan,” ujarnya.

Perwakilan khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke, mengatakan peningkatan pasukan Afghan akan menjadi fokus besar pasca pemilu tanggal 20 Agustus.

Ditanya mengenai prospek pemilu yang berjalan dengan adil, Holbrooke mengatakan ia telah mendengar keluhan dari “berbagai sisi” selama kunjungannya minggu lalu namun tidak terlalu “mengecewakan”.

“Hal yang luar biasa untuk menyelenggarakan pemilu di tengah situasi perang, dan ini juga merupakan pemilu pertama dalam sejarah Afghanistan.” (rin/rtr) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar