Baru Bebas, Prita Kembali Terancam Kurungan Penjara

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Prita akan kembali menghadapi jeratan pasal berlapis dakwaan jaksa. (SuaraMedia News)

Prita akan kembali menghadapi jeratan pasal berlapis dakwaan jaksa. (SuaraMedia News)

Jakarta (SuaraMedia News) - Pembatalan putusan sela Pengadilan Negeri Tangerang oleh Pengadilan Tinggi Banten kasus Prita Mulyasari praktis membuat Prita merasa terusik. Pasalnya, dia harus kembali memenuhi panggilan dan jalannya persidangan.

"Pastinya mengganggu pekerjaan saya. Saya harus kembali menghadiri meja persidangan, padahal baru saja, saya memulai awal kehidupan baru bagi karir dan keluarga Saya," kata Prita, Sabtu (31/7/2009).

Prita pun tidak bisa berkata-kata lagi, hanya pasrah dan siap menjalani persidangan selanjutnya.

"Wallahualam. Apapun niat mereka terhadap, saya berharap tetap dilindungi Allah," ujar Prita.

Untuk diketahui, Ketua Pengadilan Tinggi Banten Sumarno mengatakan, ada kesalahan persepsi terhadap Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik (UU ITE) terutama Pasal 54 ayat (1) dan (2) UU Nomor 11/2008, yang disangkakan terhadap Prita atas dakwaan pencemaran nama baik.

Sumarno menambahkan, pembatalan putusan sela Prita itu telah ditetapkan sejak Senin 27 Juli lalu.

Sementara itu, Menghadapi persidangan kembali kasus pencemaran nama baik, kuasa hukum Prita Mulya Sari, Syamsul Anwar mengaku telah menyiapkan bukti kuat yang menguntungkan kliennya.

"Kita tinggal menyiapkan diri bahwa Ibu Prita tidak bersalah. Kita siapkan logika hukum yang mendukung. Sebenarnya sejak dulu ada bukti yang sangat menguntungkan Ibu Prita sebagai senjata pamungkas," kata Syamsul saat dihubungi okezone, Jumat (31/7/2009).

Namun, Syamsul enggan memberi bocoran mengenai apa senjata pamungkas yang pihaknya maksudkan.

Syamsul menambahkan, hingga kini dia belum terima pemberitahuan resmi terkait pembatalan putusan sela Pengadilan Negeri Tangerang oleh Pengadilan Tinggi Banten.

"Saya baru tahu dari teman-teman media. Tapi kami tetap siap, begitu pun Ibu Prita untuk menghadapi persidangan," tegas Syamsul.

Sebelumnya, Ketua Pengadilan Tinggi Banten Sumarno mengatakan, ada kesalahan persepsi terhadap Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik (UU ITE) terutama Pasal 54 ayat (1) dan (2) UU Nomor 11/2008, yang disangkakan terhadap Prita atas dakwaan pencemaran nama baik.

Oleh karena itu, PT Banten memutuskan membatalkan putusan sela kasus Prita. Keputusan tersebut ditetapkan sejak Senin 27 Juli lalu.

Dengan demikian, Prita kembali akan menjalani sidang lanjutan di PN Tangerang.

Ia akan kembali berjuang melawan dakwaan jaksa setelah Pengadilan Tinggi Banten mengabulkan gugatan banding jaksa penuntut umum untuk membatalkan penghentian kasus Prita.

Prita akan kembali menghadapi jeratan pasal berlapis, yaitu Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1,4 tahun penjara, Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis dengan ancaman 4 tahun penjara, serta Pasal 27 Ayat 3 UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Kisah Prita bermula saat ia memeriksakan kesehatannya di RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Hasil laboratorium menyatakan kadar trombositnya 27.000, jauh di bawah normal 200.000. Akibatnya ia harus menjalani rawat inap dan mendapat terapi sejumlah obat.

Setelah beberapa hari dirawat, kondisi Prita tak membaik. Saat keluarga meminta penjelasan, dokter malah menyampaikan revisi hasil tes trombosit dari 27.000 menjadi 181.000 tanpa memberikan lembar tertulis laboratorium. Dokter mengatakan Prita menderita demam berdarah.

Namun kesembuhan tak kunjung ia dapat. Lehernya malah bengkak. Maka ia memutuskan pindah rumah sakit. Di rumah sakit kedua, Prita ternyata menderita penyakit gondong bukan demam berdarah.

Atas kondisi itulah Prita merasa dirugikan RS Omni Internasional. Ibu dua anak itu kemudian menulis surat keluhan dan mengirim kepada sejumlah rekannya melalui email. Dalam waktu singkat email itu beredar luas di sejulah milis dan blog.

Surat itu pun terbaca manajemen RS Omni Internasional. Atas keluhan Prita, rumah sakit di kawasan Alam Sutera itu kemudian menyeret Prita ke jalur hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Prita yang terancam enam tahun penjara ditahan pada 13 Mei 2009. Namun tiga minggu kemudian hakim mengabulkan penangguhan penahanan Prita setelah muncul berbagai dukungan dari publik dan pejabat pemerintah. Hakim Pengadilan Negeri Tangerang juga menghentikan kasus Prita melalui putusan sela pada 25 Juni lalu. Namun, jaksa mengajukan banding atas keputusan tersebut dan terkabul.(okz/vvn) www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini