Ambruknya Usaha AS Dorong Saudi Dekati Sarang Zionis

on Senin, 03 Agustus 2009


E-mail Cetak PDF
Menteri luar negeri AS Hillary Clinton ketika menggelar konferensi pers gabungan bersama dengan menteri luar negeri Saudi al-Faisal, untuk membahas proses perdamaian Timur Tengah. (SuaraMedia News)

Menteri luar negeri AS Hillary Clinton ketika menggelar konferensi pers gabungan bersama dengan menteri luar negeri Saudi al-Faisal, untuk membahas proses perdamaian Timur Tengah. (SuaraMedia News)

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Arab Saudi menolak mentah-mentah seruan AS untuk bersedia merehabilitasi hubungan dengan Israel untuk membantu dimulai kembalinya pembicaraan damai antara negara Yahudi tersebut dengan Palestina.

Pangeran Saud Al-Faisal, yang menjabat sebagai menteri luar negeri, pada hari Jumat (31/7) kemarin mengatakan bahwa pemerintah Saudi yang berpusat di Riyadh sama sekali tidak akan mempertimbangkan untuk menjalin hubungan macam apapun dengan Israel hingga Israel setuju untuk menarik diri dari seluruh wilayah Palestina terjajah.

“Menurut kami, pendekatan yang sedikit demi sedikit dan berjalan lambat belum dan tidak akan mengarah pada perdamaian,” kata al-Faisal pada hari Jumat setelah berdialog dengan menteri luar negeri AS, Hillary Clinton, di Washington.

“Keamanan sementara dan upaya membangun rasa saling percaya juga tidak akan berujung pada perdamaian.”

Al-Faisal mengatakan bahwa Israel harus tetap tunduk pada apa yang ditetapkan dalam kesepakatan Perdamaian Arab untuk dapat menjalin hubungan yang baik dengan Arab Saudi.

“Apa yang diperlukan adalah pendekatan menyeluruh yang menegaskan hasil akhir (kesepakatan damai) yang pernah dicapai sebagai sebuah permulaan dan melakukan negosiasi mengenai status akhir,” katanya.

Status akhir yang dimaksudkan al-Faisal termasuk menetapkan batas dari negara Palestina merdeka, pengembalian kota Yerusalem secara utuh, dikembalikannya hak-hak para pengungsi Palestina, keamanan dan hak atas air.

Barack Obama, presiden AS, bersama dengan Hillary Clinton dan George Mitchell, utusan khusus AS untuk perdamaian Timur Tengah, masing-masing pernah mendesak negara-negara Arab untuk bersedia menjalin hubungan dengan Israel.

Tindakan-tindakan seperti pembukaan kantor dagang, pertukaran akademis, dan pemberian ijin melintas bagi pesawat komersil Israel di wilayah udara Arab, menurut Washington adalah sebuah cara bagi dunia Arab untuk menunjukkan bahwa mereka semua “berkomitmen penuh” terhadap upaya perdamaian di kawasan tersebut.

“Pemerintahan Obama menginginkan agar dunia Arab, termasuk kawan baik kami di Arab Saudi, untuk bersedia bekerjasama dengan kami dan mengambil langkah lebih maju dalam meningkatkan hubungan dengan Israel, untuk mendukung pemerintahan Palestina dan mempersiapkan rakyat Palestina untuk merengkuh “perdamaian” antara Palestina dan Israel,” kata Clinton setelah bertemu dan berbicara dengan al-Faisal.

“Kelanjutan kepemimpinan Arab Saudi adalah sebuah hal yang amat penting untuk mencapai sebuah perdamaian yang menyeluruh dan kekal,” tambahnya.

Namun al-Faisal mengatakan bahwa Israel akan mengabaikan kesepakatan Perdamaian Arab, sebuah proposal perdamaian dimana dunia Arab hanya sudi mengakui Israel jika negara Yahudi tersebut bersedia menarik diri dari wilayah Arab yang dijajahnya sejak terjadinya perang Arab-Israel pada tahun 1967.

Pemerintahan Obama mendesak dunia Arab untuk meringankan sanksi terhadap Israel jika Israel bersedia membekukan pembangunan pemukiman Yahudi, sebuah langkah yang diharapkan AS akan mengarah pada negosiasi perdamaian regional.

“Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah: ‘Apa yang akan diberikan Israel sebagai ganti dari penawaran menyeluruh terhadap masalah pemukiman’?” Kata Faisal seraya merujuk pada sikap perdana menteri Benjamin Netanyahu yang mengabaikan seruan AS untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan juga perumahan di Yerusalem Timur..

“Israel tidak pernah menanggapi permintaan Amerika untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi (di Tepi Barat terjajah), yang disebut Obama sebagai pemukiman haram,” tambahnya.

Secara blak-blakan, menteri Saudi tersebut mengatakan bahwa Israel mencoba mengalihkan perhatian dari isu-isu utama dengan cara melakukan pembangunan pemukiman Yahudi ilegal di atas tanah Palestina.

“Israel harus memutuskan apakah mereka menginginkan perdamaian, yang sebenarnya ada di depan mata, atau tetap berkutat dalam ketidakjelasan yang pada akhirnya akan membuat kawasan Timur Tengah menjadi wilayah yang penuh ketidakstabilan dan kekerasan,” katanya.

Sikap Arab Saudi tersebut semakin memperumit upaya (George) Mitchell untuk kembali mengajak Israel dan Palestina dalam negosiasi perdamaian.

Namun Clinton menolak anggapan yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat diatasi. Ia mengatakan bahwa Mitchell, yang baru saja kembali dari kunjungan kelimanya di Timur Tengah, telah mendapatkan kemajuan yang berarti dan mengembangkan sebuah formula untuk membuat kedua belah pihak kembali terlibat dalam kesepakatan damai.

Clinton mengatakan bahwa tujuan AS adalah untuk membuat semua pihak mencapai kesepakatan dan bersedia memulai proses negosiasi dengan tujuan untuk memecahkan segala permasalahan yang ada secara menyeluruh.

“Kami tahu bahwa hal ini memang diperlukan dalam proses dan kami menantikan semua pihak agar duduk bersama dalam meja negosiasi yang bukan hanya didukung oleh AS, namun juga bagi negara-negara lainnya yang sepaham dengan Arab Saudi,” kata Clinton.

“Kami bisa merasakan bahwa kami telah mencapai kemajuan dan kami tetap berkomitmen untuk menuju ke arah sana dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” pungkas Clinton. (dn/ajz/cbs/rtr) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini